LAPORAN OBSERVASI PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING
3.1 Identitas Objek Observasi
Nama Sekolah : SDN. Cirengganis
Alamat : Dusun Cirengganis RT. 06 RW. 01 Desa
Haurngombong Kecamatan Pamulihan Kabupaten
Sumedang
Tahun Berdiri : 1979
Kepala Sekolah : DARWAN SUDARYAT, S.Pd
Jumlah Guru : 17 orang
Jumlah Murid : 360 orang
Ruang Kelas : 6 kelas
3.2 Pengembangan Program Bimbingan dan Konseling
Ketika saya melakukan observasi secara langsung dengan mendapatkan informasi dari kepada sekolah yang bersangkutan, beliau mengutarakan bahwa di sekolah ini sama sekali tidak memiliki program khusus dalam bimbingan konseling. Secara garis besar bimbingan dan konseling tidak berjalan secara tersurat dalam pengembangannya. Tidak saya temukan rencana program pengembangan Bimbingan dan Konseling di dalam program pelaksanaan pelajarannya.
Menurutnya bimbingan itu sendiri terintegrasi dengan sendirinya di dalam proses pembelajaran. Misalnya, ketika seorang peserta didik terbentur dengan masalahnya tidak bisa menulis dengan lancar, bimbingan yang diberikan guru secara langsung dipakai dalam kegiatan belajar mengajar. Guru secara individual mengajari cara penulisan yang benar terhadap anak yang tidak bisa menulis tersebut. Juga misalnya dalam proses apreasiasi pengenalan profesi anak, guru mengintegrasikannya dalam pelajaran seni, misalnya mengenai penggambaran cita – cita yang mereka inginkan di masa depan. Namun hanya cukup sampai ke tahapan itu saja, di mana tahapan tersebut hanya membuat anak mengungkapkan cita – cita tanpa ia kenal betul dengan profesi yang ia cita – cita kan tersebut.
Ketika saya mengadakan wawancara dengan salah seorang pengajar di sekolah yang bersangkutan, guru mengutarakan beragam hal mengenai permasalahan yang sering muncul di peserta didik. Di antaranya :
1) Malas belajar
2) Nilai selalu kurang
3) Datang terlambat
4) Sering membuat gaduh dan onar
5) Sulit memahami pelajaran
6) Tidak bisa konsentrasi dan serius mengikuti pelajaran
7) Merokok
8) Kabur pada saat jam pelajaran berlangsung
Dan masih banyak masalah lainnya yang sering dialami oleh peserta didik. Namun tak hanya sekedar tahu masalah yang dihadapi oleh peserta didiknya. Walaupun tidak ada program tertulis mengenai pemecahan masalah yang dihadapi pesert didik, tapi guru tetap memberi penanganan terhadap masalah peserta didik. Walaupun memang pemecahan masalah yang dilakukan tidak bersifat preventif tapi setidaknya penanganan masalah tetap menjadi hal yang diupayakan agar masalah tersebut tidak berkelanjutan.
3.3 Permasalahan Yang Sering Muncul di Peserta Didik
Dalam perjalanan perkembangan anak, anak tentu saja akan mengamali permasalahan yang timbul dalam kehidupannya. Rasa tidak siap dan ketidak mampuan anak dalam memecahkan masalah biasanya membuat anak harus menghadapi hal – hal yang rumit menurutnya. Anak SD kelas 1 harus menghadapi teman – teman yang baru ia kenal, harus menghadapi seorang guru dengan segala ketakutannya bahwa guru itu galak, sinis dan lain sebagainya. Anak pun harus terbiasa dengan kegiatan belajar mengajar yang terkadang membuat anak bosan dan jenuh apabila pengajarannya tidak menarik baginya.
Jangankan anak – anak, orang dewasa pun selalu menghadapi berbagai masalah dalam perjalanan hidupnya. Sehingga sudah menjadi hal yang umum apabila anak memiliki permasalahan, dan permasalahan itu tentu saja harus segera diselesaikan dan ditemukan pemecahannya. Karena apabila dibiarkan begitu seja ditakutkan akan menjadi penghambat perkembangan anak dan akan menjadi permasalahan yang berkelanjutan nantinya.
Permasalahan yang acap kali timbul pada anak sekolah dasar Cirengganis di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Malas belajar
2. Nilai selalu kurang
3. Datang terlambat
4. Sering membuat gaduh dan onar
5. Sulit memahami pelajaran
6. Tidak bisa konsentrasi dan serius mengikuti pelajaran
7. Merokok
8. Kabur pada saat jam pelajaran berlangsung
9. Berkelahi / bertengkar
10. Merusak peralatan sekolah, dan lain sebagainya.
Permasalahan tersebut memang bukanlah permasalahan yang berat dan kriminal. Tetapi apabila tidak diberikan bimbingan dan akan membawa anak larut terus menerus dalam kesalahan dan akan semakin terbiasa untuk melakukan hal – hal salah lainnya.
3.4 Upaya Penanganan Masalah
Seperti yang telah saya singgung di atas bahwa permasalahan yang dialami oleh peserta didik memang banyak adanya. Yang rata – rata semuanya tidak bisa selesai dengan mudah seperti membalikan telapak tangan. Harus ada tahapan – tahapan khusus yang dilakukan oleh seorang guru yang di sini bertindak sebagai konselor.
Siswa kadang tidak menyadari bahwa dirinya bermasalah. Sebagai seorang anak yang masih berada di umur 6 – 12 tahun, anak – anak SD memiliki pemikiran yang sangat sederhana dan belum mengkhawatirkan mengenai hal – hal yang akan ia hadapi ke depannya. Dalam keadaan seperti ini lah seorang guru memiliki andil yang penting untuk menjadi pemerhati siswa. Hal yang diperlukan siswa itu adalah antara lain 1) bimbingan belajar 2) bimbingan sosial dan 3) bimbingan dalam mengatasi masalah pribadi.
1. Bimbingan Belajar
Bimbingan belajar ini sering diupayakan guru untuk dapat membantu siswa – siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar. Seperti misalnya siswa sulit menulis dengan benar, sulit membaca, sulit untuk memahami materi yang diajarkan dan masalah lain yang berhubungan dengan proses belajar mengajar. Guru dengan sukarela memberikan bimbingan di luar jam pelajaran untuk memberikan bantuan secara bertahap kepada siswa yang memiliki masalah tersebut. Diharapkan dengan proses yang bertahap siswa memberikan perkembangan yang positif ke depannya. Apabila hal tersebut tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan, alternatif lain adalah dengan mengadakan komunikasi dengan orang tua peserta didik yang bersangkutan. Dengan memberikan laporan hasil evaluasi peserta didik, memberikan informasi mengenai peserta didik dan keadaannya dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Terkadang dalam waktu yang tidak tentu penetapannya guru mengadakan rapat dengan orang tua dengan maksud membicarakan perkembangan kemampuan anaknya, namun menurut salah seorang guru jarang orang tua murid mau mengikuti rapat tersebut dengan alih – alih rapat tersebut hanya bertujuan meminta sumbangan saja.
2. Bimbingan Sosial
Bimbingan ini dimaksudkan agar siswa mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan kelompok, sehingga tercipta suasana belajar mengajar yang kondusif. Menurut Abu Ahmadi bimbingan osial dimaksudkan untuk memperoleh kelompok belajar dan bermain, persahabatan dan kelompok sosial yang sesuai dan yang akan membantu dalam menyelesaikan permasalahan yang dibahas secara bersama.
3. Bimbingan dalam mengatasi masalah pribadi
Layanan ini diberikan kepada siswa dengan terlebih dahulu guru mengetahui tanda – tanda siswa yang bermasalah. Siswa dipantau dalam jarak waktu tertentu lalu apabila tidak terjadi perubahan lalu siswa didekati secara individual oleh guru yang menjadi wali kelas.
Adapun fungsi bimbingan yang diterapkan di sekolah ini adalah fungsi penuntasan. Di mana setelah terjadi permasalahan maka barulah muncul layanan bimbingan dan konseling kepada anak yang bermasalah. Sekolah tidak memberlakukan fungsi pencegahan dan pemahaman. Sehingga tidak ada layanan terlebih dahulu guna mencegah dan menghindari masalah – masalah yang mungkin terjadi.
Dalam teknik yang digunakan dalam layanan bimbingan dan konseling, kebanyakan guru menggunakan teknik non tes dengan mengukur siswa mana yang kiranya sedang mengalami hambatan atau masalah. Di mana obervasi yang dilakukan adakah obervasi sehari – hari dan observasi partisifativ. Observasi sehari – hari dilakukan pada keseharian kegiatan belajar mengajar, juga dalam obsevasi partisifativ anak diamati dalam suatu kegiatan belajar mengajar.
Baru lah ketika sebuah masalah pada peserta didik memerlukan pemecahan secara bersama – sama dengan orang – orang yang terdekat dengan lingkungan anak, guru mengadakan kunjungan rumah ( home visit ) guna membicarakan hal – hal tersebut dengan orang tua siswa. Misalnya ketika kejadian anak kelas VI yang mabuk pada saat akan dilaksanakannya Ujian Akhir Nasional, guru pun dengan sigap membawa anak tersebut seusai UAS ke rumahnya dan menjelaskannya kepada orang tua. Akhirnya setelah pembicaraan dengan orang tua nya diketahuilah bahwa kakaknya yang memaksa adiknya untuk meminum minuman tersebut. Maka dari situ munculah pemecahan secara bersama – sama untuk tindak lanjut yang dilakukan pada permasalahan tersebut.
