Selasa, 03 Januari 2012

BIMBINGAN KONSELING

BAB III
LAPORAN OBSERVASI PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING


3.1 Identitas Objek Observasi

Nama Sekolah : SDN. Cirengganis
Alamat : Dusun Cirengganis RT. 06 RW. 01 Desa
Haurngombong Kecamatan Pamulihan Kabupaten
Sumedang
Tahun Berdiri : 1979
Kepala Sekolah : DARWAN SUDARYAT, S.Pd
Jumlah Guru : 17 orang
Jumlah Murid : 360 orang
Ruang Kelas : 6 kelas


3.2 Pengembangan Program Bimbingan dan Konseling
Ketika saya melakukan observasi secara langsung dengan mendapatkan informasi dari kepada sekolah yang bersangkutan, beliau mengutarakan bahwa di sekolah ini sama sekali tidak memiliki program khusus dalam bimbingan konseling. Secara garis besar bimbingan dan konseling tidak berjalan secara tersurat dalam pengembangannya. Tidak saya temukan rencana program pengembangan Bimbingan dan Konseling di dalam program pelaksanaan pelajarannya.
Menurutnya bimbingan itu sendiri terintegrasi dengan sendirinya di dalam proses pembelajaran. Misalnya, ketika seorang peserta didik terbentur dengan masalahnya tidak bisa menulis dengan lancar, bimbingan yang diberikan guru secara langsung dipakai dalam kegiatan belajar mengajar. Guru secara individual mengajari cara penulisan yang benar terhadap anak yang tidak bisa menulis tersebut. Juga misalnya dalam proses apreasiasi pengenalan profesi anak, guru mengintegrasikannya dalam pelajaran seni, misalnya mengenai penggambaran cita – cita yang mereka inginkan di masa depan. Namun hanya cukup sampai ke tahapan itu saja, di mana tahapan tersebut hanya membuat anak mengungkapkan cita – cita tanpa ia kenal betul dengan profesi yang ia cita – cita kan tersebut.
Ketika saya mengadakan wawancara dengan salah seorang pengajar di sekolah yang bersangkutan, guru mengutarakan beragam hal mengenai permasalahan yang sering muncul di peserta didik. Di antaranya :
1) Malas belajar
2) Nilai selalu kurang
3) Datang terlambat
4) Sering membuat gaduh dan onar
5) Sulit memahami pelajaran
6) Tidak bisa konsentrasi dan serius mengikuti pelajaran
7) Merokok
8) Kabur pada saat jam pelajaran berlangsung
Dan masih banyak masalah lainnya yang sering dialami oleh peserta didik. Namun tak hanya sekedar tahu masalah yang dihadapi oleh peserta didiknya. Walaupun tidak ada program tertulis mengenai pemecahan masalah yang dihadapi pesert didik, tapi guru tetap memberi penanganan terhadap masalah peserta didik. Walaupun memang pemecahan masalah yang dilakukan tidak bersifat preventif tapi setidaknya penanganan masalah tetap menjadi hal yang diupayakan agar masalah tersebut tidak berkelanjutan.

3.3 Permasalahan Yang Sering Muncul di Peserta Didik
Dalam perjalanan perkembangan anak, anak tentu saja akan mengamali permasalahan yang timbul dalam kehidupannya. Rasa tidak siap dan ketidak mampuan anak dalam memecahkan masalah biasanya membuat anak harus menghadapi hal – hal yang rumit menurutnya. Anak SD kelas 1 harus menghadapi teman – teman yang baru ia kenal, harus menghadapi seorang guru dengan segala ketakutannya bahwa guru itu galak, sinis dan lain sebagainya. Anak pun harus terbiasa dengan kegiatan belajar mengajar yang terkadang membuat anak bosan dan jenuh apabila pengajarannya tidak menarik baginya.
Jangankan anak – anak, orang dewasa pun selalu menghadapi berbagai masalah dalam perjalanan hidupnya. Sehingga sudah menjadi hal yang umum apabila anak memiliki permasalahan, dan permasalahan itu tentu saja harus segera diselesaikan dan ditemukan pemecahannya. Karena apabila dibiarkan begitu seja ditakutkan akan menjadi penghambat perkembangan anak dan akan menjadi permasalahan yang berkelanjutan nantinya.
Permasalahan yang acap kali timbul pada anak sekolah dasar Cirengganis di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Malas belajar
2. Nilai selalu kurang
3. Datang terlambat
4. Sering membuat gaduh dan onar
5. Sulit memahami pelajaran
6. Tidak bisa konsentrasi dan serius mengikuti pelajaran
7. Merokok
8. Kabur pada saat jam pelajaran berlangsung
9. Berkelahi / bertengkar
10. Merusak peralatan sekolah, dan lain sebagainya.
Permasalahan tersebut memang bukanlah permasalahan yang berat dan kriminal. Tetapi apabila tidak diberikan bimbingan dan akan membawa anak larut terus menerus dalam kesalahan dan akan semakin terbiasa untuk melakukan hal – hal salah lainnya.

3.4 Upaya Penanganan Masalah
Seperti yang telah saya singgung di atas bahwa permasalahan yang dialami oleh peserta didik memang banyak adanya. Yang rata – rata semuanya tidak bisa selesai dengan mudah seperti membalikan telapak tangan. Harus ada tahapan – tahapan khusus yang dilakukan oleh seorang guru yang di sini bertindak sebagai konselor.
Siswa kadang tidak menyadari bahwa dirinya bermasalah. Sebagai seorang anak yang masih berada di umur 6 – 12 tahun, anak – anak SD memiliki pemikiran yang sangat sederhana dan belum mengkhawatirkan mengenai hal – hal yang akan ia hadapi ke depannya. Dalam keadaan seperti ini lah seorang guru memiliki andil yang penting untuk menjadi pemerhati siswa. Hal yang diperlukan siswa itu adalah antara lain 1) bimbingan belajar 2) bimbingan sosial dan 3) bimbingan dalam mengatasi masalah pribadi.

1. Bimbingan Belajar
Bimbingan belajar ini sering diupayakan guru untuk dapat membantu siswa – siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar. Seperti misalnya siswa sulit menulis dengan benar, sulit membaca, sulit untuk memahami materi yang diajarkan dan masalah lain yang berhubungan dengan proses belajar mengajar. Guru dengan sukarela memberikan bimbingan di luar jam pelajaran untuk memberikan bantuan secara bertahap kepada siswa yang memiliki masalah tersebut. Diharapkan dengan proses yang bertahap siswa memberikan perkembangan yang positif ke depannya. Apabila hal tersebut tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan, alternatif lain adalah dengan mengadakan komunikasi dengan orang tua peserta didik yang bersangkutan. Dengan memberikan laporan hasil evaluasi peserta didik, memberikan informasi mengenai peserta didik dan keadaannya dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Terkadang dalam waktu yang tidak tentu penetapannya guru mengadakan rapat dengan orang tua dengan maksud membicarakan perkembangan kemampuan anaknya, namun menurut salah seorang guru jarang orang tua murid mau mengikuti rapat tersebut dengan alih – alih rapat tersebut hanya bertujuan meminta sumbangan saja.

2. Bimbingan Sosial
Bimbingan ini dimaksudkan agar siswa mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan kelompok, sehingga tercipta suasana belajar mengajar yang kondusif. Menurut Abu Ahmadi bimbingan osial dimaksudkan untuk memperoleh kelompok belajar dan bermain, persahabatan dan kelompok sosial yang sesuai dan yang akan membantu dalam menyelesaikan permasalahan yang dibahas secara bersama.

3. Bimbingan dalam mengatasi masalah pribadi
Layanan ini diberikan kepada siswa dengan terlebih dahulu guru mengetahui tanda – tanda siswa yang bermasalah. Siswa dipantau dalam jarak waktu tertentu lalu apabila tidak terjadi perubahan lalu siswa didekati secara individual oleh guru yang menjadi wali kelas.
Adapun fungsi bimbingan yang diterapkan di sekolah ini adalah fungsi penuntasan. Di mana setelah terjadi permasalahan maka barulah muncul layanan bimbingan dan konseling kepada anak yang bermasalah. Sekolah tidak memberlakukan fungsi pencegahan dan pemahaman. Sehingga tidak ada layanan terlebih dahulu guna mencegah dan menghindari masalah – masalah yang mungkin terjadi.
Dalam teknik yang digunakan dalam layanan bimbingan dan konseling, kebanyakan guru menggunakan teknik non tes dengan mengukur siswa mana yang kiranya sedang mengalami hambatan atau masalah. Di mana obervasi yang dilakukan adakah obervasi sehari – hari dan observasi partisifativ. Observasi sehari – hari dilakukan pada keseharian kegiatan belajar mengajar, juga dalam obsevasi partisifativ anak diamati dalam suatu kegiatan belajar mengajar.
Baru lah ketika sebuah masalah pada peserta didik memerlukan pemecahan secara bersama – sama dengan orang – orang yang terdekat dengan lingkungan anak, guru mengadakan kunjungan rumah ( home visit ) guna membicarakan hal – hal tersebut dengan orang tua siswa. Misalnya ketika kejadian anak kelas VI yang mabuk pada saat akan dilaksanakannya Ujian Akhir Nasional, guru pun dengan sigap membawa anak tersebut seusai UAS ke rumahnya dan menjelaskannya kepada orang tua. Akhirnya setelah pembicaraan dengan orang tua nya diketahuilah bahwa kakaknya yang memaksa adiknya untuk meminum minuman tersebut. Maka dari situ munculah pemecahan secara bersama – sama untuk tindak lanjut yang dilakukan pada permasalahan tersebut.

BIMBINGAN KONSELING

BAB II
LANDASAN TEORI


2.1 Pengertian Bimbingan Konseling
Dalam setiap bidang ilmu pengetahuan masing – masing memiliki pakar atau ahli yang kerap kali memberikan pandangan atau definisi yang beragam mengenai materi – materi dalam bidang keilmuan tersebut. Begitu juga dengan definisi bimbingan dan konseling yang diberikan oleh para ahli, terdapat banyak definisi yang berbeda – beda.
Bimbingan dan konseling terdiri dari dua kata yaitu bimbingan dan konseling. Maka dari itu pertama akan kita bahas mengenai bimbingan. Mathewson ( 1969 ) mengartikan bimbingan sebagai pendidikan dan pengembangan yang menekankan proses belajar yang sistematik. Sedangkan Prayitno dan Erman Amti ( 2004 ) mengungkapkan bahwa bimbingan merupakan proses pemberian bantuan oleh orang yang ahli kepada beberapa orang atau individu, baik anak – anak, remaja maupun dewasa.
Masih banyak pakar dan ahli lain yang mendefinisikan pengertian mengenai bimbingan. Namun pada dasarnya walaupun dalam redaksi kata setiap ahli menggunakan kata – kata yang berbeda namun pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan bahwa secara umum bimbingan memiliki arti bantuan. Sedangkan apabila mengambil pengertian secara lebih luas maka dapat ditarik kesimpulan bawa bimbingan merupakan bantuan yang diberikan oleh seseorang ahli kepada individu atau beberapa orang individu dengan memberikan sebuah pengetahuan tambahan untuk memahami dan mengatasi permasalahan yang tengah dihadapi oleh individu tersebut, dengan proses yang terus menerus.
Konseling adalah proses pemberian yang dilakukan melalui wawancara konseling yang dilakukan oleh seorang ahli kepada individuyang sedang mengalami suatu masalah yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien ( Prayitno, 1999 ).
Dalam definisi konseling menyimpulkan bahwa konseling memiliki ciri pokok yaitu :
1. adanya bantuan dari seorang ahli
2. proses pemberian bantuan dilakukan dengan wawancara konseling
3. bantuan diberikan kepada individu yang mengalami masalah agar dapat memperoleh konsep lakunya di masa yang akan datang
Setelah penulis uraikan beberapa pengertian mengenai bimbingan dan konseling dapat ditarik kesimpulan bahwa Bimbingan dan Konseling yaitu merupakan sebuah rangkaian kegiatan yang berupa bantuan yang diberikan seorang ahli ( konselor ) kepada seorang klien ( konseli ) dengan cara tatap muka, baik secara individu atau beberapa orang dengan memberikan pengetahuan tambahan untuk mengatasi permasalahan yang dialami oleh konseli, dengan cara yang berkesinambungan dan tersusun secara sistematis.
Bimbingan dan konseling adalah pelayanan yang diperlukan bagi peserta didik. Terutama agar perjalanan pendidikan yang dilaksanakan di sekolah dasar dapat berjalan beriringan dengan perkembangan peserta didik yang berjalan dengan baik, sehingga menghindari hambatan – hambatan yang dapat menghambat perkembangan pendidikan siswa. Bimbingan dan konseling memiliki fungsi tersendiri dalam pengembangannya. Konseling memiliki fungsi – fungsi sebagai berikut :
1. Pemahaman, yaitu fungsi untuk membantu perserta didik memahami diri dan lingkungannya.
2. Pencegahan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mampu mencegah atau menghindarkan diri dari berbagai permasalahan yang dapat menghambat perkembangan dirinya.
3. Pengentasan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mengatasi masalah yang dialaminya.
4. Pemeliharaan dan pengembangan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memelihara dan menumbuhkembangkan berbagai poteni dan kondisi positif yang dimilikinya.
5. Advokasi, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memperoleh pembelaan atas hak dan atau kepentingan yang kurang mendapat perhatian.
Dalam penyelenggaraan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling ini dituntut adanya pemenuhan sejumlah asas bimbingan. Asas – asas bimbingan ini diperlukan untuk memperlancar pelaksanaan dan menjamin keberhasilan kegiatan bimbingan konseling ini. Dan apabila asas – asas ini tidak dapat terpenuhi tentunya akan dapat menghambat atau bahkan menggagalkan proses pelaksanaan bimbingan konseling ini. Asas – asas bimbingan dan konseling tersebut adalah :
1. Asas kerahasiaan, yang menuntut adanya kerahasiaan seluruh data dan keterangan klien yang tidak boleh diketahui oleh pihak lain selain konselor. Maka dalam hal ini konselor harus memelihara dan menjaga kerahasiaan data klien.
2. Asas kesukarelaan, di mana hal ini harus tumbuh dari diri peserta didik ( klien ) untuk mengikuti kegiatan bimbingan konseling ini.
3. Asas keterbukaan, yang menghendaki adanya sikap terbuka dari klien dan tidak ada kepura-puraan baik dalam memberikan keterangan maupun mengemukakan permasalahan yang ada. Juga dalam menerima informasi atau materi yang diberikan guru ( konselor ) kepadanya.
4. Asas kemandirian, adalah asas yang menunjukkan pada tujuan bimbingan konseling ini di mana diharapkan peserta didik dapat menjadi individu yang mandiri, dapat memahami dan mengenal dirinya sendiri dan lingkungannya sehingga mampu menyelesaikan masalah yang ia hadapi selanjutnya secara mandiri dan bertanggung jawab.
5. Asas kegiatan ialah asas yang menghendaki agar peserta didik ( klien ) dapat berpartisipasi aktif di dalam penyelenggaraan bimbingan konseling ini.
6. Asas kekinian, yakni di mana permasalahan yang dihadapi oleh klien adalah permasalahan di masa kini.
7. Asas kedinamisan, yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan ( klien ) hendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton dan terus berkembang sesuai dengan kebutuhan.
8. Asas keterpaduan, di mana asas ini menghendaki agar berbagai kegiatan dan layanan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang harmonis dan terpadukan.
9. Asas kenormatifan, di mana seluruh kegiatan dan layanan bimbingan dan konseling didasarkan pada norma – norma baik norma agama, hokum, peraturan, adat istiadat, ilmu Pengetahuan dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku.
10. Asas keahlian, menghendaki agar setiap kegiatan dan layanan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah – kaidah professional. Dalam hal ini, para pelaksana layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar – benar ahli dalam bimbingan dan konseling.
11. Asas alih tangan kasus, di mana apabila pihak – pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara cepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik ( klien ) kiranya dapat mengalih-tangankan kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing ( konselor ) dapat menerima alih tangan kasus dari orangtua, guru – guru lain atau ahli lain. Juga sebaliknya guru pembimbing ( konselor ) dapat mengalih-tangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten baik yang ada di lembaga sekolah maupun di luar sekolah.
12. Asas Tut Wuri Handayani, yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana yang mengayomi ( memberikan rasa aman ), mengembangkan keteladanan dan memberikan rangsangan dan dorongan serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peseerta didik.


2.2 Pentingnya Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar
Menilik pada tujuan pendidikan yaitu membentuk manusia yang seutuhnya, bimbingan dan konseling secara tidak langsung menunjang tujuan pendidikan tersebut. Bimbingan dan konseling dapat menangani masalah dan memberikan layanan secara khusus pada siswa, agar siswa dapat mengembangkan dirinya secara penuh.
Bimbingan konseling ini sendiri bertujuan untuk :
1. Mengatasi kesulitan belajar
2. Mengatasi kebiasaan yang tidak baik pada saat kegiatan belajar maupun dalam hubungan sosial
3. Mengatasi kesulitan yang berhubungan dengan kesehatan jasmani.
4. Hal yang berkaitaan dengan kelanjutaan studi.
5. Kesulitan yang berhubungan dengan perencanaan dan pemilihan pekerjaan dan
6. Mengatasi kesulitan maslaah sosial-emosional yang berasal dari murid berkaitan dengan lingkungan sekolah, keluarga dan lingkungan yang lebih luas.
Sekolah Dasar bertanggung jawab memberikan pengalaman – pengalaman dasar kepada anak yaitu kemampuan dan kecakapan membaca, menulis dan berhitung, pengetahuan umum serta perkembangan kepribadian, yaitu sikap terbuka terhadap orang lain, penuh inisiatif, kreatifitas dan kepemimpinan, keterampilan serta sikap bertanggung jawab.
Guru memiliki peranan yang sangat penting dan memikul tanggung jawab untuk memahami anak dan membantu perkembangan sosial pribadi anak. Bimbingan memberikan proses yang penting dalam kegiatannya yaitu proses di mana anak menemukan dirinya sendiri. Hal tersebut dapat membantu anak mengadakan penyesuaian terhadap situasi baru, mengembangkan kemampuan anak untuk memahami diri sediri dan menerapkannya dalam situasi mendatang.
Bimbingan diharapkan tidak hanya bersifat “mengatasi” tapi juga diharapkan mampu bersifat preventif guna mencegah berkembangnnya masalah – masalah pada anak didik. Tuntutan untuk mengadakan identifikasi secara awal banyak dibenarkan oleh para ahli di antaranya karena :
1. Kepribadian anak masih luwes, belum menemukan banyak masalah hidup, mudah terbentuk dan masih akan banyak mengalami perkembangan.
2. Orang tua murid sering berhubungan dengan guru dan mudah dibentuk hubungan tersebut, orang tua juga aktif dalam membimbing pendidikan anaknya di sekolah.
3. Masa depan anak masih terbuka sehingga dapat belajar mengenali diri sendiri dan dapat menghadapi suatu masalah di kemudian hari.
Bimbingan tidak hanya diberikan pada anak yang bermasalah melainkan pandangan bimbingan dewasa ini yaitu menyediakan suasana atau situasi perkembangan yang baik, sehingga setiap anak di sekolah dapat terdorong semangat belajarnya dan dapat mengembangkan pribadinya sebaik mungkin dan terhindar dari praktik – praktik yang merusak perkembangan anak itu sendiri.
Juga menilik pada konsep psikologi belajar mengenai kesiapan belajar menunjukan bahwa hambatan pendidikan dapat timbul jika kurikulum diberikan kepada anak terlalu cepat atau terlalu lambat, untuk menghadapi perubahan dan perkembangan pendidikan yang terus menerus perlu adanya penyuluhan untuk menumbuhkan motivasi dan menciptakan situasi belajar dengan baik sehingga diperoleh kreatifitas dan kepemimpinan yang positif pada aktifitas melalui penyuluhan kepada orang tua dan murid.

2.3 Pengembangan Program BK di Sekolah Dasar
Sebagaimana tersirat dalam Undang – Undang BAB I No.:20/2003 Pasal 1 Ayat 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional di mana :

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, bangsa dan Negara.

Hal ini menyiratkan bahwa pendidikan dapat mewujudkan peserta didik yang dapat mengembangkan kepribadiannya dan dapat mengendalikan dirinya dan mengembangakan keterampilan yang ia miliki. Kepribadian seorang peserta didik akan berkembang dari masa ke masa, perkembangan yang ia hadapi akan banyak mendapat rintangan dan masalah yang tentunya harus mendapat perhatian dan penanganan yang khusus dan penyelesaian secara berkesinambungan. Hal tersebut akan dapat dijalani dalam proses layanan bimbingan dan konseling, di mana BK ini memberikan layanan bagi peserta didik untuk dapat menghadapi permasalahan yang ia hadapi dalam proses perkembangannya sehingga peserta didik tumbuh menjadi individu yang mandiri dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar untuk dapat menghadapi permasalahannya dan berpikir secara dewasa. Adapun guru sebagai konselor dapat tersirat dalam SKB Mendikbud dan Kepala BAKN No. 0433/F/1933 dan No. 25 Tahun 1993 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya di mana pada pasal 1 ayat 4 : Guru Pembimbing adalah guru yang mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik.
Dalam pengembangannya di sekolah dasar, program Bimbingan Konseling ini sebagian besar tidak dipisahkan dalam satu waktu khusus pembelajaran tapi menjadi sebuah bimbingan yang terintegrasi dalam tiap mata pelajaran. Seyogyanya guru selalu memberikan arahan yang baik dan memberikan nasihat – nasihat yang menuntun anak untuk menuju ke arah yang lebih baik.
Pada dasarnya program bimbingan konseling ini sendiri memiliki visi dan misi yang diusung guna memberikan layanan yang dapat memberikan kemajuan, kemandirian dan keberhasilan bagi individu yang mengikuti program layanan ini. Adapun visi dari program BK ini sendiri adalah :

Terwujudnya perkembangan diri dan kemandirian secara optimal dengan hakekat kemanusiannya sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa, sebagai mahluk individu dan mahluk sosial dalam berhubungan dengan manusia dan alam semesta.

Dan misi dari bimbingan konseling ini adalah :

Menunjang perkembangan diri dan kemandirian siswa untuk dapat menjalani kehidupan sehari – hari sebagai siswa secara efektif, kreatif dan dinamis serta memiliki kecakapan hidup untuk masa depan karir dalam :
a. Beriman dan bertakwa terhadap Tuhan YME
b. Pemahaman perkembangan diri dan lingkungan
c. Pengarahan diri ke arah diimensi spiritual
d. Pengambilan keputusan berdasarkan IQ, EQ dan SQ dan
e. Pengaktuliasasian diri secara optimal

2.4 Penyusunan Program Bimbingan dan Konseling
Layanan bimbingan dan konseling merupakan sebuah kegiatan yang memerlukan perencanaan yang matang didasarkan pada pengukuran kebutuhan ( need assessment ), yang diwujudkan dalam bentuk program bimbingan dan konseling.
Penyusunan program dan layanan bimbingan dan konseling adalah membuat rencana pelayanan bimbingan dan konseling dalam bidang bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karir.
Penyusunan program bimbingan dan konseling ini sendiri memiliki komponen ( struktur ) yaitu : a) layanan dasar bimbingan, b) layanan responsif, c) layanan perencanaan individual, dan d) layanan dukungan sistem. Keempat komponen ini saling terkait satu sama lain.
Layanan dasar bimbingan diartikan sebagai “ proses pemberian bantuan kepada semua siswa melalui kegiatan – kegiatan secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistemtis dalam rangka membantu perkembangan dirinya secara optimal. Dengan tujuan untuk membantu semua siswa agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya ( basic life skill )”.
Layanan responsive merupakan pemberian bantuan kepada siswa yang memiliki kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera. Tujuannya adalah membantu siswa dalam memecahkan masalah yangs edang ddihadapi oleh siswa dan membantu siswa menghadapi rintangan, hambatan dan kegagalan yang ia hadapi pada proses perkembangannya.
Layanan perencanaan individual diartikan sebagai “ proses bantuan kepada siswa agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depannya berdasarkan pemahaman akan peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya.”
Ketiga komponen di atas merupakan pemberian layanan bk secar langsung. Sedangkan dukungan sistem merupakan komponen layanan dan kegiatan manajemen yang tidak langsung memmberikan bantuan kepada siswa. Dukungan sistem adalah kegiatan - kegiatan manajemen yang bertujuan meningkatkan program bimbingan secara menyeluruh.

BIMBINGAN KONSELING

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Proses belajar mengajar kadang kala tidak berjalan dengan baik, terutama di sekolah dasar. Seringkali guru sebagai seorang pengajar dihadapkan pada masalah – masalah yang timbul yang sebagian besar berasal dari anak didik kita. Masalah yang sering timbul adalah terlambat masuk, tidak mengerjakan tugas dengan baik, melanggar peraturan dan tata tertib sekolah dan masalah – masalah yang lainnya. Tak ayal lagi masalah ini sering membuat sebagian besar guru kewalahan dan merasa jengkel.
Tentunya hal ini bukanlah hal yang seharusnya membuat guru lantas marah tak jelas dan semakin memperburuk kesalahan yang diperbuat anak. Harus selalu diingat bahwa peserta didik yang kita hadapi di sekolah dasar ini adalah anak usia 6-12 tahun yang tentunya masih kita kategorikan sebagai anak – anak. Di mana pada dasarnya permasalahan yang dihadapi oleh anak usia ini biasanya berkaitan dengan gangguan pada perkembangan anak. Walaupun dari segi usia mereka memiliki rentang yang sama, tetapi setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lain.
Sebagai pendidik yang baik tentunya kita harus bisa mengetahui bahwa setiap anak memiliki karakteristik dan permasalahan yang berbeda dan tentunya juga perlu penanganan yang berbeda pula dalam hal mendidik anak baik itu di sekolah maupun di rumah. Upaya penanganan yang dilakukan di sekolah sudah tentu akan berbeda dengan penanganan yang dilakukan di rumah, namun yang sangat memiliki peran penting dalam pemecahan masalah yang dihadapi anak adalah orang tua mereka sendiri, karena anak akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah daripada di sekolah. Di sisi lain, sekolah memiliki tanggung jawab untuk dapat memberikan pengalaman – pengalaman dasar kepada anak yakni kemampuan dan kecakaan menulis dan berhitung, pengetahuan umum serta perkembangan kepribadian, yaitu sikap terbuka terhadap orang lain, penuh inisiatif, kreatifitas dan kepemimpinan.
Bimbingan yang diberikan ini dapat diartikan sebagai suatu bagian integral dalam keseluruhan program pendidikan yang mempunyai fungsi positif. Karena hal yang terpenting dari proses bimbingan ini adalah proses penemun diri sendiri, di mana hal ini akan membantu anak mengadakan penyesuaian terhadap situasi baru, mengembangkan kemampuan anak untuk memahami diri sendiri dan menyesuaikannya dalam situasi yang akan datang. Bimbingan bukan lagi bersifat hanya mengatasi setiap krisis yang dihadapi anak tetapi juga menerapkan suatu pemikiran tentang perkembangan anak sebagai pribadi sengan segala kebutuhan, minat dan kemampuan yang harus dikembangkan.
Sedemikian besarnya tanggung jawab yang diemban sekolah untuk dapat mengembangkan potensi diri siswa, sehingga perlulah adanya sekolah menjalankan program bimbingan konseling seoptimal mungkin. Sehingga menjadi sesuatu yang penting diadakannya program BK ini. Sebagai perbandingan kita di sini akan melihat bagaimana program pengembangan proses pelaksanaan bimbingan konseling yang berlangsung di SDN Cirengganis Desa Haurngombong Kecamatan Pamulihan Kabupaten Sumedang dengan segala permasalahan yang dihadapi dan pemecahan yang dilaksanakan.

1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dirumuskan dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa itu bimbingan konseling ?
2. Mengapa bimbingan konseling dipandang penting untuk dikembangkan di sekolah dasar ?
3. Bagaimana pengembangan program Bimbingan Konseling yang dilaksanakan di SDN Cirengganis Desa Haurngombong Kecamatan Pamulihan ?
4. Permasalahan apa yang sering timbul dari peserta didik dan bagaimana proses penyelesaiannya ?
5. Beberapa efektif kah program Bimbingan Konseling di SD Cirengganis dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi peserta didik ?

1.3 Tujuan Penulisan
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk :
1. Memenuhi tugas mata kuliah Bimbingan Konseling.
2. Memperdalam pengetahuan penulis mengenai pengembangan bimbingan konseling di sekolah dasar.
3. Menambah pengalaman penulis dengan terjun langsung ke sekolah dasar untuk mengobservasi sejauh mana program bimbingan konseling ini dikembangkan di SDN. Cirengganis.

1.4 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan makalah ini adalah Kata Pengantar, Daftar Isi dan terdiri dari empat bab.
Di mana Bab I adalah sebagai Pendahuluan berisi sub bab 1.1 Latar Belakang, 1.2 Rumusan Masalah, 1.3 Tujuan Penulisan dan 1.4 Sistematika Penulisan. Bab II merupakan Landasan Teori yang terdiri dari sub bab 2.1 Pengertian Bimbingan dan Konseling, 2.2 Pentingnya Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar, 2.3 Pengembangan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar, 2.4 Penyusunan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar. Bab III merupakan Laporan Hasil Observasi terdiri dari sub bab 3.1 Identitas Observasi Program Bimbingan dan Konseling, 3.2 Pengembangan Program Bimbingan dan Konseling, 3.3 Permasalahan yang Sering Dihadapi Peserta Didik, 3.4 Upaya Penanganan Masalah. Dan yang terakhir Bab IV yang merupakan Penutup berisi sub bab 4.1 Kesimpulan, 4.2 Saran. Dan yang terakhir adalah Daftar Pustaka dan Lampiran.

Anak-anak


Anak (jamak: anak-anak) adalah seorang lelaki atau perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami masa pubertas. Anak juga merupakan keturunan kedua, di mana kata "anak" merujuk pada lawan dari orang tua, orang dewasa adalah anak dari orang tua mereka, meskipun mereka telah dewasa.

Menurut psikologi, anak adalah periode pekembangan yang merentang dari masa bayi hingga usia lima atau enam tahun, periode ini biasanya disebut dengan periode prasekolah, kemudian berkembang setara dengan tahun tahun sekolah dasar.[1]

Walaupun begitu istilah ini juga sering merujuk pada perkembangan mental seseorang, walaupun usianya secara biologis dan kronologis seseorang sudah termasuk dewasa namun apabila perkembangan mentalnya ataukah urutan umurnya maka seseorang dapat saja diasosiasikan dengan istilah "anak".